Tidak banyak kita melihat Bapak Proklamasi kita dalam photo berwarna.
Sabtu, 21 Juli 2012
Rabu, 02 Mei 2012
Daun Africa (South Africa Leaf ) / Nan Fei Shu
Di Cina Daun Afrika Selatan ternyata sudah sejak dulu dikenal oleh masyarakat sebagai tanaman obat yang sangat mujarab. Mereka menyebutnya Nan Fei Shu. Di sebagian daratan Cina ada yang menyebut Nan Hui Ye. Konon tanaman ini dahulu digunakan oleh kalangan petinggi di lingkungan kekaisaran Cina sebagai obat untuk berbagai penyakit. Sehingga para petinggi pada masa kekaisaran Cina banyak yang menanam Nan Fei Shu di halaman belakang rumah.
Di Asia Tenggara sendiri, terutama di Malaysia dan Singapura, Daun Afrika Selatan sudah banyak sekali digunakan. Sebagian masyarakat Malaysia menyebutnya dengan "Daun Kupu kupu" (butterfly leave) Kegunaan yang paling menonjol adalah untuk pengobatan diabetes, hipertensi, mengurangi kolesterol jahat, asam urat, pengerasan hati bahkan kanker hati dan pembuangan racun dari tubuh (detoksifikasi).
Daun Afrika Selatan ini bermanfaat untuk mencegah berbagai macam penyakit, yakni : Diabetes, Gangguan Hati bahkan Kanker Hati, Susah Tidur, Kolestrol, Darah Tinggi, Infeksi Persendian, Kesemutan, Demam, Pusing Kepala, Silinder, Menambah Nafsu Makan, Infeksi Kerongkongan, Menguatkan Fungsi Paru-paru, Menghilangkan Dahak, Melancarkan Buang Air Seni, Bengkak Pada Bagian Kaki, Menguatkan Fungsi Lambung, Raumatik, Batuk, Antibiotik / Menghilangkan Racun, Menghilangkan Flek Flek Hitam.
Hindari jika merebusnya hingga mendidih karena dapat menghancurkan enzim yang dikandungnya.
Ambil 3 ~ 5 lembar daun afrika ini dan rebus dengan 1 gelas air, dan sebaiknya jangan sampai sampai mendidih. Dapat juga dimakan dengan cara dikunyah.
Atau dapat dibuat juice, ambil 3 - 4 helai daun, potong-potong kecil. 2 Apel hijau, jus dengan juicer.
Jika anda berada di kota Jambi dan membutuhkan daun ini dapat menghubungi saya di email : togibm@gmail.com
sumber : http://naturindonesia.com/diabetes-militus/daun-afrika-selatan.html
http://daunafrikaselatan.blogspot.com/
Kamis, 05 April 2012
Sudahkan Anda Membaca al-Qur’an Hari Ini…?
بسم الله الرحمنِ الرحيم. الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين
Alhamdulillah,
Kitabullah al-Karim, kitab Allah mulia yang diturunkan atas nabi kita
Rasulullah Muhammad SAW masih berada di pangkuan kita tanpa kurang atau
bertambah satu huruf pun. Tidak ada yang sanggup dari kerajaan yang
bagaimanapun besarnya di dunia untuk menambah atau mengurangi ayat
al-Qur’an al-Karim itu. Sekalipun semua
manusia dan jin seluruhnya dikumpulkan untuk mendatangkan seumpama Al
Qur’an al-Karim maka mereka sekali-kali tidak akan sanggup membuatnya
walaupun hanya satu baris apalagi dua baris.
Allah SWT yang akan senantiasa menjaga dan memelihara al-Qur’an al-Karim, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون
Yang artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS al-Hijr: 9)
Jaminan
penjagaan Allah SWT terhadap al-Qur’an al-Karim ini menjadikannya tetap
dalam keasliannya sebagaimana ia diturunkan. Al-Qur’an al-Karim tetap
kokoh berdiri hingga sekarang, kemuliannya tak terkontaminasi oleh
segala cela dan tidak ternodai oleh campur tangan kotor manusia.
Al-Qur’an al-Karim senantiasa tetap terjaga dan terpelihara dari
berbagai perubahan dan penggantian sampai hari kiamat nanti sehingga dakwah Nabi Muhammad SAW akan tetap berlaku hingga hari kiamat. Sampai
suatu hari nanti, di akhir zaman, al-Qur’an yang mulia tulisannya
diangkat oleh malaikat. Malaikat angkat tulisan al-Qur’an al-Karim yang
berada di dalam mushaf al-Qur-an yang mulia itu sehingga tiba-tiba pada
suatu masa hanya tinggal kertas belaka, tidak ada tulisannya lagi.
Kita
mesti bersyukur karena al-Qur’an al-Karim masih bisa kita temui di
mana-mana, di rumah kita, di musholla, masjid, madrasah, majelis ta’lim,
pondok pesantren, perkantoran, dan lain sebagainya. Umat Muslim
mestinya bangga dengan al-Qur’an yang mulia, cinta kepada al-Qur’an
al-Karim. Itulah Muslim yang sesungguhnya. Tapi, apakah kita layak
disebut seorang Muslim? Jawabannya gampang saja. Berapa lama kita
meluangkan waktu dalam sehari untuk baca dan memahami isi kandungan
al-Quran al-Karim?

Coba
bandingkan, berapa cepat kita membaca koran dan al-Quran al-Karim
setiap hari? jawabannya, banyak kaum Muslim, lebih cepat membaca koran
dibanding kitab suci pegangan mereka sendiri. Padahal, membaca al-Qur’an
al-Karim merupakan ibadah yang paling utama dan dicintai Allah SWT.
Sekali lagi, al-Qur’an al-Karim adalah dijadikan ibadah dalam membacanya
dan akan diberikan pahala yang besar oleh Allah SWT bagi orang yang
membacanya. Ya, membaca al-Qur’an al-Karim adalah ibadah.
Dalam
hal ini para ulama sepakat, bahwa hukum membaca al-Qur’an al-Karim
adalah wajib ‘ain. Ini berarti setiap individu yang mengaku dirinya
Muslim harus mampu baca al-Qur’an al-Karim dengan baik dan benar. Kalau
tidak, maka ia berdosa. Karena bagaimana mungkin kita mengamalkan
al-Qur’an al-Karim tanpa mau membaca dan memahaminya. Beriman terhadap
al-Qur’an al-Karim bukan sekedar percaya saja, namun mesti dibuktikan
dengan implementasi yang nyata sebagai tuntutan dari iman tersebut yaitu
membaca, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sungguh
membaca al-Qur’an al-Karim adalah keuntungan dan ibadah yang sangat
besar pahalanya di sisi Allah SWT. Lebih-lebih bagi orang yang
mengetahui maknanya atau artinya dalam pembacaan al-Qur’an al-Karim itu
akan diberi pahala yang berlipat ganda lebih besar. Tapi, kalau orang
membaca al-Qur’an al-Karim hanya maknanya saja maka itu bukan membaca
al-Qur’an al-Karim.
Cobalah tengok,
kini sudah banyak orang membaca al-Qur’an al-Karim hanya maknanya dan
tidak lafadznya. Padahal, makna al-Qur’an al-Karim itu bisa
bermacam-macam tetapi lafadznya tidak ada perubahan. Dijadikannya
al-Qur’an yang mulia sebagai bentuk ibadah dalam membacanya adalah
lafadznya bukan maknanya. Yang paling sempurna dengan kita membaca
lafadznya dulu sebelum membaca maknanya. Akan tetapi, pada suatu saat
nanti ini akan berkurang, berkurang, dan berkurang karena orang sudah
tidak bisa membaca lagi huruf al-Qur’an al-Karim. Dan ini sudah tampak,
betapa banyak orang yang mengaku Muslim, mengaku umat Islam, mengaku
umat Nabi Muhammad Rasulullah SAW, tetapi tidak bisa baca huruf
al-Qur’an al-Karim.
Kita sadari atau
pun tidak, kalau kita mau jujur pada diri sendiri, anak-anak zaman
sekarang ini sudah jauh dari al-Qur’an yang mulia. Tidak menyesal
seorang ayah dan ibu kalau anaknya buta huruf al-Qur’an al-Karim. Tidak
menyesal orang tua yang melihat anaknya tidak bisa membaca al-Qur’an
al-Karim. Tidak ada penyesalan sama sekali dalam meninggalkan al-Qur’an
al-Karim, tidak disentuh lagi itu al-Qur’an yang mulia, tidak dibuka
lagi itu al-Qur’an yang mulia, apalagi membacanya. Baca al-Qur’an
al-Karim jauh daripada kita. Siang dan malam hari, al-Qur’an yang mulia
tidak hampir kepada kita.
Allah SWT
memberikan kita waktu 24 jam dalam sehari. Selama seharian itu, kita
sering terbuai oleh aktivitas kerja sehari-hari, kita asyik mengobrol
dan berbincang dengan teman, asyik menonton acara televisi dan asyik
membaca koran ataupun majalah. Semua itu kita mampu lakukan berlama-lama
hingga tanpa terasa waktu 24 jam kita telah habis berganti. Aktivitas
ini terus berulang kita lakukan. Tapi, bila kita dihadapkan untuk
berbicara, berinteraksi dengan Allah SWT melalui surat cinta yang
diturunkan-Nya tak mampu kita lakukan. Kita malah berpaling dan
membelakanginya dengan berbagai alasan seolah tiada guna dan manfaatnya.
Tidak terbesit dalam diri kita untuk meluangkan waktu sedikit saja
untuk membaca al-Qur’an al-Karim.
Ingatlah,
Rasulullah Muhammad SAW sudah berpesan kepada kita bahwa orang yang
paling baik menjadi umat Nabi SAW adalah yang belajar dan yang mengajar
al-Qur’an al-Karim. Sayangnya kita menutup telinga kita rapat-rapat
pesan mulia yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW ini. Kita harus
jujur memang baru seperti ini kadar keimanan kita. Buktinya, kalau buka
akademi al-Qur’an al-Karim rasanya sepi peminatnya. Yang gratis tidak
dipungut biaya sekalipun masih enggan belajar al-Qur’an al-Karim. Dan
sering kita mendengar seseorang berkata,
“Zaman udah canggih begini masih saja belajar Qur’an? Kuno, jadul banget sih, nggak gaul, hari gini masih ngaji Qur’an, ngapain?“.
Orang-orang
seperti ini akan ditonton besok di hari kiamat dan al-Qur’an al-Karim
akan menjelma dan mengadu di hadapan Allah SWT,
“Ya Rabb, orang ini hinakan aku, aku akan jerumuskan dia ke dalam neraka“.
Rasulullah
Muhammad SAW bersabda bahwa siapa yang menjadikan al-Qur’an al-Karim di
belakangnya, dia tidak buka, dia tidak baca, dia tidak senang, maka al-
Qur’an al-Karim akan mendorong orang itu ke dalam api neraka Jahannam.
Na’udzubillah.
Begitulah
kondisi umat Islam saat ini yang berat rasanya kaki melangkah untuk
belajar al-Qur’an yang mulia itu yang menjadi kitab suci pedoman hidup
mereka. Tapi lihatlah sebaliknya, orang-orang akan antri dan
berebut mendaftarkan anaknya di akademi-akademi bahasa asing. Tidak
sedikit biaya yang mereka keluarkan demi masuk ke akademi bahasa asing
tersebut. Mereka rela menempuh jarak ribuan mil demi mendaftarkan
anaknya ke akademi tersebut. Musholla, masjid, dan madrasah-madrasah
yang ada di dekat rumahnya yang mengajarkan baca tulis al-Qur’an
al-karim dilewati begitu saja. Tak ada istilah kata penyesalan dalam
kamusnya bila anaknya tidak bisa baca tulis huruf al-Qur’an al-Karim
yang penting bisa baca tulis bahasa asing. Ini Kalam Allah, Kalam Allah,
Kalam Allah SWT yang mulia begitu tak ada harganya lagi dinilai kepada
manusia yang katanya sudah maju dan modern. Begitu bangganya seseorang
mampu berbahasa asing, mampu menulis huruf bahasa asing tapi tidak
mampu untuk membaca al-Qur’an yang mulia. Dia tidak kenal huruf
al-Qur’an al-Karim.
Selama ini kita
mampu membaca surat kabar, majalah dan buku setiap hari, namun tidak
dengan al-Qur’an al-Karim. Kita mampu membaca dan mengkhatamkan surat
kabar yang jumlah kata atau hurufnya hampir sama dengan 1 juz al-Qur’an
al-Karim dalam waktu belasan menit, namun kita tidak mampu membaca
beberapa halaman dari al-Qur’an al-Karim. Begitu pula kita mampu membaca
majalah yang tebalnya seperempat atau sepertiga al-Qur’an al-Karim dalam waktu beberapa jam, namun giliranya membaca al-Qur’an al-Karim kita
tidak mampu membaca beberapa juz dalam waktu yang sama. Bahkan kita
mampu membaca dan mengkhatamkan buku novel, komik dan roman yang
tebalnya sama dengan al-Qur’an al-Karim dalam waktu seminggu, namun kita tidak mampu mengkhatamkan al-Qur’an al-Karim dalam waktu yang sama, bahkan sebulan sekalipun. Inilah kondisi iman kita saat ini yang sangat lemah dan kritis.
Cobalah
disamping kita membaca buku dan koran yang begitu banyaknya di pagi,
siang, sore, dan malam hari, kita berikan waktu baca al-Qur’an yang
mulia. Tidak akan rugi bagi orang yang membaca al-Qur’an al-Karim justru
sebaliknya keuntungan besar yang bakal diraih. Ketahuilah, besok
al-Qur’an al-Karim itu akan menjelma di hadapan Allah SWT untuk membela
orang yang membacanya. Itu al-Qur’an al-Karim akan berbicara di hadapan
Allah SWT,
“Ya Rabb, kalau malam orang itu baca aku, aku akan berikan syafaat kepada dia“.
Al-Qur’an
al-Karim kelak akan memberikan syafaat kepada kita di saat kita sangat
membutuhkan syafaat tersebut. Namun, bagaimana bisa al-Qur’an yang mulia
mau memberikan syafaat kepada kita, sementara kita tidak mau kenal?
Apakah ada orang yang mau memberikan syafaat dan pertolongan kepada
orang yang dia tidak kenal? Coba kita pikir, sejenak pikiran kita
layangkan, apakah ada orang yang kita tidak kenal kita mau berikan
syafaat? apakah mau memberikan pertolongan? Al-Qur’an yang mulia akan
bela orang-orang yang membacanya, al-Qur’an al-Karim bela itu orang yang
membacanya,
“Ya Allah, dia baca
aku kalau malam. Aku akan berikan syafaat kepada dia menolong supaya
Engkau ampuni dosanya. Orang ini akan aku bawa ke dalam surga“.
Dan
diterimalah syafaat al-Qur’an al-Karim di hari kiamat. Ini kita tidak
berkenalan, anak kita nggak kenal al-Qur’an al-Karim, kita nggak bisa
baca al-Qur’an al-Karim, istri kita nggak bisa baca al-Qur’an al-Karim
lalu bagaiman al-Qur’an al-Karim mau bela mereka nanti, semasa mereka
hidup saja tidak kenal dan tidak tahu serta tidak mau tahu tentang
al-Qur’an al-Karim. Lalu bagaimana kalau ditanya,
“Siapa Imammu?“
Sementara mereka sudah hinakan itu al-Qur’an al-Karim, tidak mau baca, lihat baris huruf al-Qur’an al-Karim pun tidak begitu senang. Kemasukan apa sampai hati kita seperti ini.
Perhatikan, banyak kaum Muslim –bahkan lulusan S2, S3, bergelar profesor sekalipun– tak pernah sekalipun baca al-Quran al-Karim.
Bertahun-tahun mereka bergelut membaca buku-buku yang super tebal yang
jauh lebih tebal dari al-Qur’an al-Karim. Mereka kuasai itu buku yang
super tebal. Sayangnya mereka masih tidak mengerti hukum-hukum Islam
yang hanya berskala kecil-kecil untuk kebutuhan mereka sendiri. Padahal
dalam al-Quran al-Karim,
semuanya sudah tertuang sangat lengkap. Karena itu, jangan heran di
berbagai media; seperti TV, radio, koran atau majalah dipenuhi
pertanyaan masalah hukum agama yang mengulang-ulang dari tahun ke tahun.
Sebut saja, pertanyaan seputar hukum zakat, thaharah, dan lain-lain.
Padahal, jika mereka kaum Muslim mau merelakan waktunya membaca dan
memahami al-Quran yang mulia itu, mereka akan paham kandungannya.
Yang terjadi sebaliknya, mengaku Muslim, tetapi selalui awam urusan kaum Muslim sendiri. Sungguh ironis!
Sejatinya kita bercermin kepada kehidupan orang-orang yang shalih. Mereka menjadikan al-Qur’an al-Karim sebagai buku bacaan hariannya. Mereka tidak pernah bosan dan kenyang dengan al-Qur’an al-Karim, sebagaimana diungkapkan oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu,
“Kalau hati kita bersih, maka kita tidak pernah kenyang dengan al-Qur’an al-Karim.”
Lihatlah
bagaimana Salafus saleh mampu menaklukan dunia, itu karena mereka
senantiasa menanamkan al-Qur’an yang mulia dalam diri kehidupan mereka.
Mereka senantiasa membaca al-Qur’an al-Karim,
dan mereka pun mendapatkan banyak kebaikan. Sangat bertolak belakang
dengan kondisi umat Islam saat ini, terjajah, terhina, dan tertindas
oleh orang-orang kafir. Tidak sedikit yang dibunuh dengan
terang-terangan. Bahkan lebih menyedihkan justru datang dari umat Muslim
sendiri yang saling menjatuhkan, mengejek, menghina, menfitnah terhadap
sesama Muslim. Semua ini dikarekan mereka sudah dijauhkan dari
al-Qur’an al-Karim.
Mari mengaji dan belajar al-Qur’an al-Karim
Padahal,
keuntungan yang besar bakal diperoleh bagi siapa pun yang dekat dengan
al-Qur’an yang mulia itu. Berbagai keutamaan dan keuntungan akan
diperoleh bagi orang yang membaca al-Qur’an al-Karim.
Yang mana keuntungan tersebut tidak dimiliki oleh bacaan lainnya
seperti surat kabar, majalah, buku, novel, dan sebagainya. Diantara
keutamaan dan keuntungan orang yang membaca al-Qur’an al-Karim adalah;
Pertama,
orang yang membaca al-Qur’an al-Karim akan mendapatkan syafaat
(pertolongan) pada hari Kiamat nantinya berdasarkan sabda Rasulullah
Muhammad SAW bersabda, ”Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (H. R. Muslim). Tentunya tidak hanya sekedar membaca, juga mengamalkannya. Namun demikian, tanpa membaca al-Qur’an al-Karim maka
tidak mungkin kita mengamalkannya. Selain Rasulllah SAW, tidak
seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepada seseorang pada hari
hisab, kecuali al-Qur’an al-Karim yang dibaca selama ia hidup di dunia.
Kedua,
Rasulullah Muhammad SAW menegaskan bahwa orang yang terbaik di antara
manusia adalah orang yang mau mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an al-Karim, sesuai dengan sabdanya, ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an al-Karim dan yang mengajarkannya”
(H.R. Bukhari). Oleh karena itu, orang yang terbaik di dunia ini
bukanlah orang yang punya memiliki harta yang melimpah, jabatan maupun
pangkat yang tinggi. Namun, disisi Allah SWT orang terbaik itu adalah
orang yang mau belajar al-Qur’an al-Karim dan mengajarkan kepada orang lain.
Ketiga, orang yang pandai membaca al-Qur’an al-Karim akan
disediakan tempat yang paling istimewa di surga bersama para malaikat
yang suci. Sedangkan orang yang membaca terbata-bata (belum pandai),
maka ia akan diberi dua pahala yaitu pahala mau belajar dan kesungguhan
membaca, sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW, ”Orang yang pandai membaca al-Qur’an al-Karim
akan ditempatkan bersama kelompok para malaikat yang mulia dan terpuji.
Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua
pahala.” (H.R Bukhari & Muslim).
Keempat, kejayaan suatu umat Islam itu dengan membaca al-Qur’an al-Karim dan mengamalkannya. Namun sebaliknya, musibah yang menimpa umat ini disebabkan karena sikap acuh tak acuh kepada al-Qur’an al-Karim dan meninggalkannya. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah SWT meninggikan (derajat) ummat manusia ini dengan Al-Qur’an al-Karim dan membinasakannya pula dengan Al-Qur’an al-Karim.”
(H.R Muslim). Inilah rahasia mengapa generasi awal umat Islam (generasi
sahabat, tabi’in dan tabi’itabi’in) menjadi generasi terbaik umat ini
sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Mengapa demikian?
Jawabannya adalah karena mereka mengamalkan al-Qur’an al-Karim dan
sunnah Rasul SAW. Maka Islampun berjaya pada masa-masa mereka, sehingga
tersebar keseluruh penjuru dunia. Namun, setelah generasi tersebut
sampai saat ini umat Islam meninggalkan al-Qur’an al-Karim sehingga
umat Islam menjadi lemah dan hina karena dijajah oleh orang kafir,
bahkan dizalimi dan dibunuh seenaknya oleh orang kafir akibat
meninggalkan al-Qur’an yang mulia.
Kelima,
orang yang membaca dan mendengar al-Qur’an akan mendapatkan sakinah,
rahmah, doa malaikat dan pujian dari Allah SWT. Nabi Muhammad Rasulullah
SAW bersabda, ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah
Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya,
melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat,
dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di
hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim). Memang,
membaca dan mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an menentramkan hati kita
sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt, ““...Ingatlah, hanya dengan zikir (mengingat) Allah hati menjadi tenang.”. (Q.S Ar-Ra’d: 28). Al-Qur’an al-Karim merupakan
zikir yang paling afdhal (utama). Oleh karena itu, ketenangan tidaklah
diperoleh dengan harta yang banyak, pangkat dan jabatan, namun diperoleh
dengan sejauh mana interaksi kita dengan al-Qur’an yang mulia itu.
Keenam, mendapat pahala yang berlipat ganda. Rasulullah Muhamad SAW bersabda, ”Barangsiapa
yang membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, dan
satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak
mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tapi alif itu satu huruf.” (H.R at-Tirmizi). Bahkan, membaca “alif lam mim”
saja kita mendapatkan pahala sebanyak 30 kebaikan, maka bagaimana
dengan membaca sejumah ayat-ayat yang dalam satu halaman al-Qur’an al-Karim?
Bahkan berapa jumlah pahala yang kita peroleh bila kita mampu membaca 1
juz dengan jumlah huruf ribuan atau ratusan ribu? Tentu pahalanya
sangat banyak, bahkan kita tidak sanggup menghitungnya.
Dan
masih banyak lagi keutamaan dan keuntungan yang akan diberikan kepada
umat Islam yang mau berinteraksi dengan al-Qur’an yang mulia itu. Begitu
hebatnya al-Qur’an yang mulia itu sampai-sampai membacanya saja menjadi
ibadah yang sangat luar biasa dengan pahala yang berlipat ganda dari
Allah SWT. Tidak ada bacaan manapun yang mampu menandingi bacaan seperti
al-Qur’an al-Karim.
Coba renungkan
sejenak, kapan terakhir kali Anda membaca al-Qur’an al-Karim? Setahun,
sebulan, seminggu, atau Ramadhan yang lalu, atau sampai tidak ingat sama
sekali karena lamanya tidak buka dan baca al-Qur’an al-Karim?. Sudahkah
anda membaca al-Qur’an al-Karim hari ini? Kalau belum, jangan
tunda-tunda lagi sebelum ajal datang tanpa kita ketahui, segera ambil
air wudlu sekarang, cari
mushaf al-Qur’an al-Karim Anda, bukalah al-Qur’an al-Karim tersebut, dan
mulailah membaca al-Qur’an al-Karim, satu ayat, dua ayat, tiga ayat,
satu halaman, dua halaman, satu juz, dua juz, hingga akhirnya khatam
al-Qur’an al-Karim. Apabila belum bisa baca, segera cari guru yang
menurut anda bisa mengajarkan Anda dengan baik. Tidak ada kata terlambat
bagi orang yang mau belajar al-Qur’an yang mulia itu.
Mari
jadikan membaca al-Qur’an al-Karim sebagai menu makanan kita
sehari-hari. Apabila kita tidak makan maka kita akan mati kelaparan
begitu pun dengan membaca al-Qur’an yang mulia, bila kita tidak
membacanya sehari saja maka hati kita akan kelaparan dan akhirnya bisa
mati.
Sahabat, sudahkan Anda membaca al-Qur’an hari ini…?
(KH. Abdullah Syafi’i/Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA/Hidayatullah.com/elhooda)
Tuesday, 28 February 2012 02:21:39
sumber diambil dari : http://www.elhooda.com/2012/02/sudahkan-anda-membaca-al-quran-hari-ini/
Jumat, 23 Maret 2012
Hukum Berburuk Sangka Dan Mencari Kesalahan
Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr
dikutip dari www.almanhaj.or.id
Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]
Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]
Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”
Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.
Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.
Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.
Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selemat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” [Lihat Kitab Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir (XIII/121)]
Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.
Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.
Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.
[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]
sumber : http://renilightofeyes.abatasa.com/post/detail/924/hukum-berburuk-sangka-dan-mencari-kesalahan-
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr
dikutip dari www.almanhaj.or.id
Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]
Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]
Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”
Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.
Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.
Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.
Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selemat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” [Lihat Kitab Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir (XIII/121)]
Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.
Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.
Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.
[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]
sumber : http://renilightofeyes.abatasa.com/post/detail/924/hukum-berburuk-sangka-dan-mencari-kesalahan-
Senin, 26 September 2011
Antara Nasihat dan Fadhihah (Membuka Aib)
Sesungguhnya memberikan nasihat kepada kaum muslimin; baik berupa bimbingan kepada kebenaran yang nyata atau pun peringatan dari kebatilan dan para pelakunya, terhitung bagian dari agama.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدِّينُ النَّصِيحَةُ قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Rasulullah saw. bersabda: “Agama adalah nasihat”, para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Rasulullah saw. bersabda: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum”. (Bukhari, Muslim dan ahli hadits lainnya)
Al-Khaththabi berkata: “Nasihat adalah sebuah kosa kata yang bersifat merangkum dan menghimpun banyak arti, maknanya adalah: mendatangkan kebaikan kepada pihak yang dinasihati”.Tidak diragukan lagi bahwa manusia berpotensi salah dan cenderung menyimpang dari al-haq dan kebenaran. Tersebut dalam hadits:
كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ اَلتَّوَّابُوْنَ
“Semua anak keturunan manusia bersifat salah, dan sebaik-baik mereka yang salah adalah yang paling banyak bertaubat”. (Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dan termasuk hak seorang muslim atas muslim lainnya adalah hendaklah ia menunjukkan kepada saudaranya tentang aib dan kesalahannya, dan hendaklah ia menasihatinya dalam perkara dan urusannya. Tetapi, nasihat itu hendaklah dilakukan dengan lembut dan hikmah. Hendaklah seorang muslim berhati-hati, jangan sampai menghina saudaranya dan menuduhnya hanya berdasar kepada sekedar persangkaan saja, sebab, persangkaan itu adalah seburuk-buruk pembicaraan, dan cukuplah hal ini sebagai kejahatan. Rasulullah saw. bersabda:
بِحَسْبِ اِمْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ اَلْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang itu menjadi jahat saat ia menghina saudaranya yang muslim” (Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Jika ada mendengar – seorang muslim – tentang saudara muslim lainnya sesuatu yang tidak disuka, jangan segera membenarkan perkataan tentang saudaranya itu. Justru kewajibannya adalah untuk melakukan tatsabbut (klarifikasi) sehingga dirinya mendapatkan keyakinan tentangnya, sebab, kebanyakan manusia telah terbiasa menyebarluaskan keburukan secara bathil, dan banyak pula manusia yang suudzan (buruk sangka) nya lebih cepat daripada husnuzhan (berbaik sangka) nya, oleh karena itu, jangan membenarkan setiap perkataan, walaupun dirinya mendengarnya berulang kali sehingga dirinya mendengarnya dari yang menyaksikan secara langsung, dan jangan membenarkan orang yang menyaksikannya secara langsung sehingga dirinya memastikan kebenaran atas apa yang disaksikannya, dan jangan membenarkan orang yang telah membuktikan kesaksiannya sehingga dirinya memastikan kebersihannya dari tendensi khusus dan hawa nafsu. Untuk inilah Allah swt. memerintahkan kepada kita untuk menjauhi banyak persangkaan, dan memandang sebagian persangkaan itu sebagai dosa, sebab zhan itu bertolak belakang dengan ilmu dan ia tidak memberi arti apa-apa terhadap kebenaran. Allah swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”. (Al-Hujurat: 12).
Firman Allah yang lain:
وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran” (An-Najm: 28).
Dan jika seseorang melihat suatu urusan, atau sampai kepadanya tentang saudaranya suatu perkataan yang memiliki dua kemungkinan arti, maka, bawalah maksud perkataannya itu kepada maksud yang baik, sebab yang demikian ini lebih sesuai dengan akhlaq mulia dan lebih mencerminkan ukhuwwah yang bening. Umar bin Al-Khaththab ra. Berkata:
لاَ تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيْكَ الْمُؤْمِنِ إِلاَّ خَيْرًا وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلاً
”Janganlah kamu menyangka satu kosa kata yang keluar dari saudara mukmin mu kecuali kebaikan, sedangkan engkau mendapati kemungkinan maksud yang baik dari perkataannya”. (Ahmad)
Puteri dari Abdullah bin Muthi’ berkata kepada suaminya Thalhah bin Abdurrahman bin Auf ra. Di zamannya Thalhah adalah orang Quraisy yang paling derma. Istrinya berkata: “Saya tidak melihat satu kaum yang lebih buruk dari saudara-saudaramu!”. Thalhah berkata kepada istrinya: “hush hush! Kenapa demikian?”. Istrinya menjawab: “Saya melihat mereka, kalau kamu sedang ada uang, mereka nempel terus kepadamu, dan jika kamu sedang tidak mempunyai apa-apa, mereka meninggalkanmu”. Maka Thalhah berkata kepada istrinya: “Ini, demi Allah, adalah bukti bahwa mereka berakhlaq mulia, mereka datang kepada kita saat kita mampu memuliakan mereka, dan mereka meninggalkan kita saat kita tidak mampu memenuhi hak-hak mereka”.
Coba kita lihat, bagaimana Thalhah men-ta’wil-kan perbuatan saudara-saudaranya terhadapnya, padahal perbuatan itu jelas buruk dan tidak kenal budi, namun demikian, ia memandangnya sebagai bentuk kesetiaan dan kemuliaan.
Jika seorang muslim melihat saudara muslim lainnya melakukan kesalahan yang tidak dapat diterima alasannya atau tidak bisa ditafsirkan lain, maka menjadi kewajibannya untuk datang kepadanya guna memberi nasihat secara rahasia, antara dirinya dan saudaranya saja, bukan di depan khalayak, sebab manusia tidak ingin aibnya diketahui oleh siapa pun, jika dirinya menasihati saudaranya secara rahasia, maka hal ini lebih berpeluang untuk diterima, lebih menunjukkan ikhlas dan jauh dari syubhat. Adapun jika dirinya menasihati saudaranya secara terbuka, di depan banyak orang, maka pada yang demikian ini terdapat syubhat dendam dan popularisasi keburukan, menonjolkan sisi kelebihan diri dan ilmu yang dimiliki. Dan hal ini merupakan penghalang yang mencegah pihak yang dinasihati untuk mendengarkan nasihat serta mengambil pelajaran darinya.
Di antara akhlaq Nabi saw. dan adabnya dalam mengingkari kemunkaran dan memperjelas kebenaran adalah bahwa jika sampai kepada beliau tentang satu atau sekelompok orang yang melakukan kemunkaran, maka beliau tidak menyebutkan nama mereka secara terbuka, beliau hanya bersabda: “Kenapa ada orang yang berbuat begini dan begini”, lalu orang yang dimaksud memahami bahwa dia lah yang dimaksud oleh nasihat itu. Dan hal ini termasuk cara memberi nasihat dan cara mentarbiyah yang paling tinggi.
Imam Syafi’i berkata:
مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَانَهُ، وَمَنْ وَعَظَهُ عَلاَنِيَّةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَشَانَهُ
“Siapa yang memberi mauizhah kepada saudara secara rahasia, maka ia telah menasihati dan memperbaikinya, dan siapa yang memberi mauizhah secara terbuka, berarti ia telah membuka aibnya dan memperburukkannya”
Jadi, seorang mukmin yang memberi nasihat, ia tidak memiliki tujuan untuk mempublikasikan aib orang yang dinasihatinya. Tujuannya tidak lain adalah menghilangkan kemaksiatan yang ia terjatuh kepadanya, sebab ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Adapun mempublikasikan dan menampakkan aib, maka hal ini termasuk yang diharamkan Allah swt. dan Rasul-Nya saw. Allah swt berfirman:
إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (An-Nur: 19).
Jadi, ada perbedaan antara orang yang bertujuan menasihati dan orang yang bertujuan membuka aib. Yang mencampur adukkan di atara keduanya hanyalah orang yang berakal tidak sehat. Hukuman bagi orang yang menyebar luaskan keburukan atas terhadap saudaranya yang beriman dan terus menerus mencari aib-aibnya serta membuka auratnya adalah Allah swt. akan mencari-cari auratnya, lalu membukanya di depan publik walaupun setelah beberapa tempo lamanya, kecuali jika ia bertaubat.
Di antara pertanda ta’yir (mencacat) dan tasyhir (mempopulerkan aib) adalah: menampakkan dan mempublikasikan keburukan dalam kemasan nasihat, ia mengklaim bahwa yang mendorongnya adalah tahdzir (memberi peringatan) atas ucapan dan perbuatannya, dan Allah mengetahui bahwa maksudnya adalah tahqir (merendahkan) dan adza (menyakiti).
Contoh hal ini adalah seseorang mencela orang lain dan menunjukkan kekurangannya serta menampakkan aibnya supaya manusia berlari darinya, namun maksudnya adalah keinginannya untuk menyakitinya karena permusuhan dirinya terhadapnya atau karena sebab-sebab tercela lainnya, dirinya tidak mampu mencapai tujuan ini kecuali dengan menampakkan celaan padanya, baik karena adanya sebab dini (agama) atau pun duniawi. Maka, siapa yang melakukan perbuatan demikian, ini merupakan pertanda adanya penyakit dalam hatinya, meskipun hal ini terjadi dari orang yang bersumpah bahwa tidak ada tujuan kecuali kebaikan, sedangkan Allah swt, menjadi saksi bahwa mereka adalah orang-orang yang bohong.
Dan siapa saja yang terkena bencana makar ini, yaitu saat ia dihina, dicacat, ditampakkan sisi kekurangannya, maka hendaklah ia bertakwa dan bersabar, sebab kesudahannya pasti milik yang bertakwa,
وَلاَ يَحِيْقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلاَّ بِأَهْلِهِ
“Dan makar buruk itu tidak menghancurkan kecuali pelakunya” (Fathir: 43)
Ketahuilah bahwa sebagian pemberi nasihat dan pengkritik dalam berbagai majlis, juga sebagian penulis di koran dan semacamnya, terperosok dalam sebagian kesalahan dan kekeliruan yang menyebabkan merenggangnya hubungan, di mana nashihah (memberi nasihat tanpa membuka aib) berubah menjadi fadhihah (membuka aib), tadzkir (memberi pengingatan) berubah menjadi tasyhir (publikasi keburukan). Dan hal ini bukanlah sesuatu yang diridhai Islam.
Ibnu Rajab berkata: ketahuilah bahwa menyebut manusia dengan sesuatu yang tidak disukainya adalah haram, jika maksudnya sekedar mencela, mencacat dan menampakkan kekuarangan. Adapun jika dalam hal ini terdapat kemaslahatan umum bagi kaum muslimin atau kemaslahatan khusus bagi sebagian mereka, dan maksudnya adalah menghasilkan kemaslahatan ini, maka hal ini tidaklah diharamkan, bahkan disunnatkan. Hal ini telah ditetapkan oleh para ulama hadits dalam kitab mereka dalam pembahasan al-jarh wat-ta’dil. Mereka menyebutkan perbedaan antara melakukan tajrih terhadap para perawi dan dengan ghibah. Mereka membantah orang-orang yang menyamakan di antaranya keduanya, baik yang menyamaratakan itu dari kalangan ahli ibadah maupun dari kalangan lainnya dari orang-orang yang belum luas ilmunya, dan tidak ada perbedaan antara orang yang diterima riwayatnya dari mereka yang yang tidak diterima
Jika tujuannya adalah memperjelas kebenaran, maka hal ini masuk dalam pengertian nasihat. Dan jika tujuannya adalah menunjukkan kekurangan yang berkata, menampakkan kebodohan dan kelemahannya dalam ilmu, maka hal ini adalah perbuatan haram, baik bantahan itu dilakukan dihadapan orang yang dibantah atau pun dilakukan tidak dihadapannya, baik dilakukan semasa hidupnya maupun dilakukan sepeninggalnya, dan hal ini tercakup dalam hadits nabi saw.:
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتَابُوْا اَلْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ اِتَّبَعَ عَوْرَاتِهِ يَتَّبِعُ الهُه عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحُهُ وَلَوْ فِيْ جَوْفِ بَيْتِهِ
“Wahai orang-orang yang beriman dengan mulutnya, sementara keimanan belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian melakukan ghibah terhadap kaum muslimin, dan jangan pula mencari-cari auratnya, sebab, siapa saja yang mencari-cari auratnya, maka Allah swt. akan mencari-cari auratnya, dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah swt. niscaya Dia akan membuka kartunya walaupun ia berada di dalam rumahnya” (HR. Abu Daud dan lainnya. Lihat Aun al-Ma’bud 13/224).
Sangat bagus kalau seorang muslim menjadi benteng yang kokoh yang membela dan melindungi harga diri saudara muslim nya dan menjaga citranya, terlebih lagi jika dihadapannya disebutkan keburukan saudaranya sesuatu yang tidak disukainya. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ رَدَّ عِرْضَ أَخِيْهِ اَلْمُسْلِمِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ اَلنَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yang membela harga diri saudaranya yang muslim, niscaya Allah swt. menjaga wajahnya dari neraka pada hari kiamat” (HR. At-Tirmidzi, shahih)
Dan hHendaklah kita semua tsiqah terhadap saudara kita dan berhati tenteram kepadanya, dan janganlah kita men-ta’wil-kan omongannya kecuali dengan baik, selama omongan itu masih memungkinkan ditafsirkan baik, supaya kita berbahagia dalam urusan agama dan dunia kita, dan supaya kita selamat pada hari kiamat,
يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ
“Yaitu hari dimana harta dan anak lakui-laki tidak memberi manfaat, kecuali yang datang kepada Allah swt dengan hati selamat” (Asy-Syu’ara: 88 – 89).
Kita memohon kepada Allah swt. agar Dia mensucikan hati kita dari ghill (dengki), dendam dan iri, dan semoga Dia memberikan kepada kita hati yang selamat, mulut yang jujur, ilmu yan bermanfaat dan amal yang shalih.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم
“Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr:10)
Selasa, 06 September 2011
Kenapa Saat Kita Terkena Liur Anjing Harus Dicuci Dengan Tanah ?
Ternyata hal ini sudah diberitahukan pada kita sejak 1400 tahun yang lalu.
Ilmuwan membuktikan jika Virus anjing itu sangat lembut dan kecil. Sebagaimana diketahui, semakin kecil ukuran mikroba, ia akan semakin efektif untuk menempel dan melekat pada dinding sebuah wadah.
Air liur anjing mengandung virus berbentuk pita cair. Dalam hal ini tanah berperan sebagai penyerap mikroba berikut virus-virusnya yang menempel dengan lembut pada wadah.
Perhatikan kata Rosulullah berikut : Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :
Sucinya wadah seseorang saat dijilat anjing adalah dengan membasuhnya tujuh kali, salah satunya dengan menggunakan tanah.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :
Apabila anjing menjilat wadah seseorang, maka keriklah (bekasnya) lalu basuhlah wadah itu tujuh kali. (HR. Muslim)
BAHAYA LIUR ANJING
Air liur anjing dari jenis apapun berbahaya bagi manusia. Persatuan Dokter Kesehatan Anak di Munich-Jerman, mengungkapkan bahwa air liur anjing mengandung berbagai kuman penyebab penyakit.
Bakteri tersebut dapat masuk dan menyerang organ dalam manusia melalui sistem terbuka.
Resiko tertular penyakit kian besar apabila terkena gigitan anjing.
Siapa yang menjadikan anjing -kecuali anjing penjaga ternak, atau anjing pemburu, atau anjing penjaga tanaman niscaya berkuranglah satu qirath pahalanya setiap hari .
Bahaya anjing tidak hanya pada liurnya saja.
Menurut peneliti dari Universitas Munich, menyatakan bahwa memelihara anjing meningkatkan resiko kanker payudara.
Peluang dan resiko mengidap kanker oleh karena memelihara anjing jauh lebih besar dibanding memelihara piaraan lain seperti kucing dan kelinci.
Sebanyak 79,7 % penderita kanker payudara ternyata sering bercanda dengan anjing, diantaranya dengan memeluk, mencium, menggendong, memandikan, dan semua aktivitas perawatan anjing.
Hanya 4,4 % pasien yang tidak memiliki hewan peliharaan.
MENGAPA MESTI DIBERSIHKAN PAKE TANAH
Tanah, menurut ilmu kedokteran modern diketahui mengandung dua materi yang dapat membunuh kuman-kuman, yakni: tetracycline dan tetarolite. Dua unsur ini digunakan untuk proses pembasmian (sterilisasi) beberapa kuman.
Eksperimen dan beberapa hipotesa menjelaskan bahwa tanah merupakan unsur yang efektif dalam membunuh kuman.
Anda juga bakal terkejut ketika mengetahui tanah kuburan orang yang meninggal karena sakit aneh dan keras, yang anda kira terdapat banyak kuman karena penyakitnya itu, ternyata para peneliti tidak menemukan bekas apapun dari kuman penyakit tersebut di dalam kandungan tanahnya.
Menurut Muhammad Kamil Abd Al Shamad, tanah mengandung unsur yang cukup kuat menghilangkan bibit-bibit penyakit dan kuman-kuman.
Hal ini berdasarkan bahwa molekul-molekul yang terkandung di dalam tanah menyatu dengan kuman-kuman tersebut, sehingga mempermudah dalam proses sterilisasi kuman secara keseluruhan.
Ini sebagaimana tanah juga mengandung materi-materi yang dapat mensterilkan bibit-bibit kuman tersebut.
Para dokter mengemukakan, kekuatan tanah dalam menghentikan reaksi air liur anjing dan virus-virus di dalamnya lebih besar karena perbedaan dalam daya tekan pada wilayah antara cairan (air liur anjing) dan tanah.
Dr. Al Isma'lawi Al-Muhajir mengatakan anjing dapat menularkan virus tocks characins, virus ini dapat mengakibatkan kaburnya penglihatan dan kebutaan pada manusia.
Fakta tentang anjing yang tak banyak diketahui
Dr. Ian Royt menemukan 180 sel telur ulat dalam satu gram bulunya, seperempat lainnya membawa 71 sel telur yang mengandung jentik-jentik kuman yang tumbuh berkembang, tiga di antaranya dapat matang yang cukup dengan menempelkannya pada kulit. Sel-sel telur ulat ini sangat lengket dengan panjang mencapai 1 mm.
Data statistik di Amerika menunjukan bahwa terdapat 10 ribu orang yang terkena virus ulat tersebut, kebanyakan adalah anak-anak.
Secara ilmiah, anjing dapat menularkan berbagai macam penyakit yang membahayakan karena ada ulat-ulat yang tumbuh berkembang biak dalam ususnya. Para dokter menguatkan bahaya ulat ini dan racun air liur yang disebabkan oleh anjing.
Biasanya penyakit ini berpindah pada manusia atau hewan melalui air liur pembawa virus yang masuk pada bekas jilatannya atau pada luka yang terkena air liurnya.
Ketika ulat-ulat ini sampai pada tubuh manusia, maka ia akan bersemayam di bagian organ tubuh manusia yaitu paru-paru. Ulat yang bersemayam di paru-paru, yang bertempat di hati dan beberapa organ tubuh bagian dalam lainnya, mengakibatkan terbentuknya kantong yang penuh dengan cairan. Dari luar, kantong ini diliputi oleh dua lapisan dengan ukuran kantong sebesar bentuk kepala embrio. Penyakit tersebut berkembang dengan lambat.
Ulat Echinococcosis dapat tumbuh berkembang di dalam kantong itu selama bertahun-tahun.
SUBHANALLAH....lebih dari 1400 tahun yang lalu Nabi SAW telah menyarankan untuk tidak bersentuhan dengan anjing dan air liurnya, dan telah memerintahkan untuk membasuhnya (jika terkena) dengan tujuh kali siraman yang salah satunya menggunakan tanah.
Sumber : wisbenbae.blogspot.com
Senin, 29 Agustus 2011
Langganan:
Postingan (Atom)







